Monday, March 1, 2021

Pentigraf, Lewat Jembatan

 

Awal  Maret 2021

Pentigraf,  Lewat Jembatan

 Arin nama panggilan seorang gadis yang bekerja sebagai pramuniaga sebuah  studi foto. Setiap harinya pulang hampir jam sepuluh malam. Sebenarnya toko tutup jam sembilan  malam,karena harus beres beres terlebih dahulu iapun baru keluar dari toko jam  setengah sepuluh.

Dengan langkah pasti iapun pulang ke rumah. Dan untuk menghemat maka iapun pulang  berjalan kaki saja.Jarak antara pasar dengan rumahnya memang tidak begitu jauh. Hanya dapat ditempuh dalam waktu 30 menit berjalan kaki. Melewati jalan yang mulai sepi iapun tetap bersendung ria untuk menghilangkan kecappaian bekerja seharian.Sampai dipersimpangan Arin pun belok kekanan lalu menyeberang, menelusuri  jalan disamping kiri layaknya pejalan kaki yang  selalu patuh dengan aturan lalulintas.Iapun terus berjalan tanpa menghiraukan gangguan para remaja lainnya yang juga sedang berjalan  di dekatnya. Ya, Arin tergolong gadis yang pemberani dan percaya diri. Langkahnya diayunkan  lebih cepat agar sampai di rumah, namun untuk sampai di rumah iapun melewati dua jembatan. Jembatan yang pertama sudah dilaluinya, jembatan kedua adalah jembatan yang hampir sampai di rumahnya. Ketika sampai jembatan itu rasa bahagia terbias diwajahnya karena sedikit lagi sampai. Namun ketika melewati jembatan Arin melihat seseorang duduk di pinggiran jembatan sambil memandang ke arah sungai. Arin pun memdekatinya, dan menyapa. “ Dik, kenapa kamu duduk di sini?” tanya Arin. Tidak ada jawaban, ia pun bertanya lagi. Katanya,” Ada apa dengamu, mengapa kamu diam saja?” Pun tidak ada jawaban. Sekali lagi Arin bertanya,” Kenapa kamu di sini sendirian? Ayo pulang bareng kakak.” Setelah bertanya  demikian Arin merinding, bulu kuduknyapun berdiri, rasa takut mulai menghantuinya. Arinpun lari sekencang-kencangnya tanpa menoleh kekiri dan kekanan, terus lari dan  berlari.

Sampai di rumah ia langsung menggedor-gedor pintu, dan langsung dibuka oleh ibunya yang sejak tadi menunggunya. Mukanya pucat, nafasnya terengah-engah dan langsung memeluk ibunya. Dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. “Puji Tuhan kamu sampai dengan selamat,”kata ibunya.  Kemudian Arin pun segera membersihkan diri dan tidak lupa iapun  berdoa lalu tidur. Ya, selamat beristirahat.

 

 Curup,1 Maret 2021

Salam Literasi

Salam sehat dan Bahagia

Lusia Wijiatun,S Pd

2 comments: